SAAT DILAN DITUDUH SYIAH

Semakin tinggi pohon, semakin kencang pula angin yang menghempasnya. Nah, hal fenomena ini pun takluput dari film yang lagi hits di indonesia pada saat ini: Dilan 1990.

Film hasil alihmedia dari novel best seller karya Pidi Baiq ini pun jadi sasaran empuk bagi penduduk Internet (saya belum terbiasa dengan istilah warganet) yang tengah mencari popularitas dengan membuat teori-teori cocokologi tanpa riset dan pendalaman informasi.

Dalam sebuah nukilan di novelnya, millea masuk kamar Dilan dan mendapati poster Mick Jagger dan Ayatullah Khomeini. Inilah musabab awal Dilan dalam novel ini disangka menganut paham Syiah. Khomeini sendiri adalah tokoh revolusioner dari iran yang mementang san menumbangkan rezim dinasti Reza syah Pahlevi yang memegang kendali monarki dua dekade yang lalu.

Saya ketawa getir.



Ketika membaca bagian novel ini, tak terlintas sedikit pun hal macam itu. yang terbesit di pikiran saya kala itu bukanlah perihal Khomeini atawa paham syiah yang dianutnya, melainkan tentang fenomena Rolling Stone di Indonesia. Anak dan remaja pada masa saya yang sangat akrab dengan Rolling Stone dan sering memakai aksesoris logo lidah menjulurnya di baju, topi dan tas. generasi saya sangat menyukai logo lidah tersebut meskipun tidak tahu, rolling stone itu band dari mana, lagunya apa saja, genrenya apa, dan vokalisnya siapa. Malangnya kau Jegger. Padahal, dulu, jegger adalah kata yang lumrah karena selalu identik dengan rambut yang tidak disisir. Ibu saya selalu memarahi saya ketika rambut saya diacungkan ala mohawk. "Rambut digituin! Mau jadi Jegger, kamu?" katanya.

Kembali ke Dilan. Menurut saya, tidak adak yang aneh jika Dilan, remaja  pada zaman 1990, remaja yang suka membaca, seorang gangster melankolis, mengagumi tokoh seperti Khomeini yang revolusioner, terlebih Khomeini meninggal pada tahun 1989. Tahun 1990, ketika informasi tidak sekilat tahun 2018, wajar kalau beritanya masih hangat pascakematiannya. Pada masa itu (1990) banyak tokoh yang digandrungi anak muda karena revolusinya. Contohlah Ernesto "Che" Guevara, Saddam Husein, dan bla bla bla.

Syahdan, mengait-hubungkan keyakinan Khomeini yang syiah dengan keyakinan pengagumnya adalah hal yang kabur. sama halnya dengan menuduh seseorang beragama budha hanya karena dia mengagumi Mahatma Ghandi, menuduh komunis kepada orang yang mengagumi Che Guevara, dan tuduhan-tuduhan lainnya.

Yang berbahaya di era ini bukanlah syiah, melainkan mereka yang melalaikan suara adzan, mereka yang hobi ke warteg saeni saat bulan ramadhan, mereka yang hobi mark up anggaran dana masyarakat, mereka yang teriak anti zionis tapi masih merokok Sampoerna, mereka yang bilang cinta tanah-air tapi masih minum Aqua, dan sebagainya.

Syiah bukan agama. Syiah lahir dari gerakan politik. Dan isu syiah--barangkali juga komunis--dijadikan isu politik di negeri ini, terlebih musim pilkada seperti tahun ini. Seperti perkataan kawan saya beberapa waktu lalu, jika ada seorang calon kepala daerah yang menganggap lawannya sangat kuat, maka isu yang diembuskan pasti perihal syiah dan komunis. Jurus ini sangat terbukti sangat ampuh.

Tabik

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama